01.56.00
0
Pengaruh Tayangan Televisi  Terhadap Perkembangan Anak dan Remaja

TUGAS MATA KULIAH ILMU KEALAMIAN DASAR


OLEH :

NAMA : AHMAD NURUS SIROT
NIM     : B.231.09.0298


PROGRAM STUDI S-1 AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SEMARANG
2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunianya sehinga saya dapat membuat makalah ini dengan baik.
Di kehidupan regenerasi muda sikap inovatif, berwawasan serta evaluatif sangat diperlukan oleh siswa untuk menjadi murid berprestasi. Hal yang diperlukan untuk menambah pengetahuan atau informasi-informasi,bisa dengan hal apa saja yang bersifat positif. Dengan menonton acara yang berhubungan dengan pendidikan baik pelajaran pelajaran formal maupun pelajaran nonformal. Selain itu pelajaran yang menambah kreasi siswa yang juga bersifat menghibur. Oleh karena itu, dengan makalah ini di harapkan dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk selalu berefikir cerdas, berilmu, berpengetahuan, berketerampilan sesuai bakat yang dimiliki siswa, serta diharapkan sisa dapat memilih acara yang pantas untuk ditonton.
Dengan upaya ini, mari kita wujudkan generasi muda yang berkualitas baik dtingkat sekolah ataupun kejenjang yang lebih tinggi. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun sangat saya nantikan.

Semarang,05 November 2010

Penulis




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR                       ………………………………………………………… 02
DAFTAR ISI                                      ………………………………………………………… 03
BAB I. PENDAHULUAN
A.       Latar belakang                         ……………………………………………………...… 04
B.       Perumusan masalah                  ………………………………………….…………….. 05
C.       Tujuan                                      ………………………………………..………………. 05
BAB II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Media Massa                ……………………………………….……………….. 06
B. Pengaruh Tayangan Televisi           ………………………………………………………... 07
C. Peran Orang Tua dan Solusi           ………………………………………………………... 09
BAB III. PENUTUP
A.      Kesimpulan                               ……………………………………………………….. 12
B.      Saran                                         ……………………….………………………………. 12

DAFTAR PUSTAKA                                    ………………………………………………………. 14

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pada periode pertumbuhan, komunikasi dikembangkan sebagai ilmu-ilmu sosial. Pada periode ini komunikasi dipercepat dengan adanya penemuan inovasi teknologi komunikasi. Berbagai alat/media yang diciptakan pada periode pertumbuhan diantaranya adalah televisi. Hingga saat ini televisi telah menjadi salah satu kebutuhan hidup masyarakat. Hampir di seluruh rumah-rumah penduduk baik di Indonesia maupun di Negara lainnya, telah terdapat televisi. Hal ini menunjukkan televisi telah menjadi salah satu kebutuhan hidup manusia.
Media televisi sebagaimana media massa lainnya berperan sebagai alat informasi, hiburan, dan kontrol sosial. Bersamaan dengan jalannya proses penyampaian isi pesan media televisi kepada masyarakat, maka isi pesan itu juga akan diinterpretasikan secara berbeda-beda oleh pemirsa. Namun ironisnya, kini dunia pertelevisian mulai terancam oleh unsur-unsur kekerasan, pornografi, serta tayangan menyimpang lainnya yang tidak seharusnya layak untuk ditonton anak dan  remaja karena akan mempengaruhi keadaan psikologi mereka yang masih labil dan cenderung belum dapat membedakan mana tayangan positif dan mana tayangan negatif dari sebuah tayangan televisi.
Seharusnya para pemilik dan pengelola televisipun berperan dalam dunia pendididkan dalam rangka membantu tugas orang tua, sekolah, dan masyarakat dalam mengajarkan dan mendidik agama, budi pekerti, kedisiplinan, nilai-nilai kesopanan, dan kreatifitas di kalangan anak-anak dan remaja.
Untuk itu, sudah saatnya para pengelola televisi dituntut ikut berperan dalam memperbanyak tayangan acara yang membawakan pesan-pesan positif dan edukatif. Juga sebaliknya mengurangi tayangan yang secara terselubung membawakan pesan-pesan negatif. Seperti sinetron yang bertemakan percintaan antara siswa dengan gurunya, kebiasaan hura-hura, berpakaian fulgar, pergaulan bebas, serta adegan-adegan kurang pantas lain yang akan mempengaruhi perubahan perilaku dan perkembangan anak.

B. Perumusan masalah
  1. Apa pengaruh tayangan televisi terhadap perkembanagan anak dan remaja ?
  2. Siapa sajakah yang berperan dalam pencegahan dampak negatif dari pengaruh tayangan televisi terhadap anak dan remaja serta solusi yang harus dilakukan ?
  3. Untuk pengaruh tayangan televisi terhadap perkembangan anak dan remaja.
  4. Untuk mengetahui siapa saja yang berperan dalam pencegahan dampak negatif dari pengaruh tayangan televisi terhadap anak dan remaja serta solusi yang harus dilakukan.

C.  Tujuan
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat mengetahui pengaruh dari tayangan televisi terhadap perkembangan anak dan remaja dan mengetahui siapa saja yang berperan dalam pencegahan dampak negatif dari pengaruh tayangan televisi terhadap anak dan remaja serta solusi yang harus dilakukan. Selain itu juga dapat memberikan informasi dan pengetahuan kepada orang tua mengenai permasalah pengaruh tayangan televisi terhadap perkembangan anak dan remaja, agar para orang tua lebih memperhatikan dan membimbing mereka dalam menonton tayangan terlevisi. Serta dapat memberi informasi kepada para pemilik dan pengelola televisi dan lembaga yang bersangkutan lainnya agar lebih selektif dalam menyajikan tayangan televisi.




BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Media Massa
Setiap manusia pada hakikatnya sangat membutuhkan komunikasi. Hal ini dikarenakan manusia adalah makhluk sosial yang berarti memiliki sifat untuk saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Jika tidak menggunakan komunikasi antar sesamanya, maka orang itu akan tertinggal dan terisolasi dari dunia yang semakin modern ini.
Williams (1984), dalam buku bahan kuliah dasar-dasar kominikasi (2008) mengidentifikasi 6 alasan mengapa kita perlu mempelajari komunikasi sebagai berikut :
  1. Komunikasi penting bagi kehidupan manusia secara personal
  2. Kita tidak dapat berkomunikasi
  3. Komunikasi adalah dasar bagi pengembang pemantapan hubungan intrpersonal
  4. Manusia adalah konsumen komunikasi
  5. Komunikasi meningkat secara tajam dalam penyelenggaraan organisasi modern
“Komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh mempengaruhisatu sama lainnya, sengaja atau tidak sengaja. Tidak terbatas pada bentukkomunikasi menggunakan bahasa verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni, dan teknologi” (Shannon dan Weaver, 1949 dalam Cangara, 2006.
Menurut Cangara (2006), komunikasi massa dapat di definisikan sebagai proses komunikasi yang berlangsung  di mana pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada khalayak yang sifatnya massal melalui alat-alat yang bersifat mekanis seperti televisi, radio, surat kabar, dan film.
“Media massa adalah mekanisme ideologi yang memberikan kepada Anda perspektif untuk memandang realitas sosial.”(Rakhmat, 2005). Menurut Cangara (2006), media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kepada khalayak (penerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperti surat kabar, film, radio, dan televisi.
Pesawat televisi termasuk sarana informasi yang paling banyak beredar dan paling berpengaruh terhadap manusia. Televisi digandrungi oleh anak-anak sampai dewasa. Televisi telah menjadi tuntutan zaman. Pembentukan sikap dipengaruhi oleh beberapa hal salah satunya yaitu pengaruh orang lain yang dianggap penting dan media massa.
Tabel 1. Faktor-Faktor Pembentukan Sikap
a.
Pengaruh Orang Lain yang Dianggap Penting
Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu diantara komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita. Di antara orang yang biasanya dianggap penting bagi individu adalah orang tua, orang yang status sosialnya lebih tinggi, teman sebaya,teman dekat, dan lain-lain.
b.
Media massa
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain, mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang.

B. Pengaruh Tayangan Televisi
Televisi merupakan salah satu lembaga kebudayaan dan sarana komunikasi umum yang terpenting. Hal itu karena adanya kelebihan yang dimiliki oleh cara kerjanya, yaitu dengan memadukan antara gambar dan suara, yang membuat proses panyampaian informasi lebih mudah dipahami oleh seluruh lapisan, dan sangat digemari anak-anak dan remaja karena mengandung daya pikat dan kemampuan yang tinggi untuk menghabiskan waktu luang.
Kini televisi telah menjadi kebutuhan hidup masyarakat luas. Televisi yang berfungsi sebagai informasi, hiburan, dan kontrol sosial ini memang cukup memberikan pengaruh terhadap masyarakat. Munculnya beberapa stasiun televisi swasta yang semakin beragam sebetulnya disambut hangat oleh masyaraka. Hal ini karena masyarakat merasa memperoleh tambahan berbagai sajian acara baru yang lebih beragam. Kehadiran televisi sangat diharapkan akan memberikan pencerahan budaya sekaligus pencerdasan melalui sajian informasi yang disampaikan secara tajam, akurat, dan terpercaya. Televisi juga dapat mencerdaskan masyarakat dalam memahami berbagai persoalan aktual dalam bidang ekonomi, budaya, sosial, dan  politik. Disamping itu televisi juga memperluas wawasan masyarakat yang aktif dalam mengikuti acara dialog interaktif, debat, diskusi, dan acara informatif edukatif  lainnya yang ditayangkan televisi.
Namun tak dapat dipungkiri belakangan ini, berbagai tayangan televisi cenderung disajikan secara kurang selektif dan semaki tidak mengarah suatu tujuan pendidikan maupun informasi. Contohnya saja pada tayangan-tayangan sinetron televisi yang kini memang memiliki rating dan share yang tinggi, telah didominasi oleh  kisah-kisah percintaan orang dewasa, kekerasan, mistis, dan harta atau kekayaan juga pada banyolan-banyolan konyol dari para pelawak yang membuat anak-anak dan remaja mengikuti apa yang mereka lihat dan dengar. Karena Pada massa anak-anak dan remaja seseorang mudah terpengaruh dengan apa yang dilihat dan dirasakannya. Perilaku buruk anak dan remaja termasuk tindakan kekerasan anak dan remaja yang terjadi di masyarakat juga merupakan pengaruh dari tayangan film kartun di televisi yang bermuatan kekerasan. Jika tayangan seperti itu terus dikonsumsi mereka, hal ini akan membawa pengaruh kurang sehat pada perkembangan mereka. Hal itu menjadi perlu diperhatikan karena menurut Ali dan Asrori (2005), apabila seorang remaja tidak dapat menyesuaikan diri antara informasi yang akan mereka terapkan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, maka remaja tersebut akan mengalami perubahan moral yang tidak sejalan dengan kematangan mental dan akan mengakibatkan bahaya psikologis dalam diri remaja tersebut. Sementara tayangan film yang khusus disajikan untuk anak-anak dan remaja sering kali berisi adegan pornografi atau pornoaksi dan kekerasan yang dapat merusak perkembangan jiwa mereka.
Perilaku pemeran sinetron sering menjadi panutan para remaja, mereka senantiasa berusaha merubah gaya hidupnya seperti kehidupan di dalam cerita suatu sinetron (Labib, 2002). Anak dan remaja yang sedang menonton televisi secara tidak sengaja akan mempelajari dan menemukan hal baru yang kemudian akan ditirunya. Tayangan televisi akan berdampak positif bagi pembentukan moralitas anak dan remaja jika cara pemanfaatan dilakukan secara benar.
Konsep lama tentang lingkungan perkembangan, memahaminya sebagai seperangkat kekuatan yang membentuk manusia, karena manusia dipandang seperti seonggok tanah liat yang dapat dicetak atau dibentuk. Sekarang dipahami bahwa manusia disamping dipengaruhi, juga mempengaruhi lingkungan fisik dan sosialnya. Dengan kata lain, dapat dikemukakan bahwa hubungan manusia dengan lingkungan itu bersifat saling mempengaruhi (reciprocal influencies) (Yusuf, 2004).
Dari kutipan tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan manusia dan manusiapun dapat mempengaruhi lingkungannya. Televisi sebagai faktor lingkungan akan dapat mempengaruhi atau merubah setiap individu.
Efek kehadiran media massa pada individu menyatakan bahwa efek dari media massa meliputi perubahan kognitif, afektif,, dan behavioral. Efek kogniti merupakan efek yang berhubungan dengan perubahan citra, informasi, dan pengetahuan, dimana dalam media massa efek kognigtif dapat terlihat pada bertambahnya pengetahuan, informasi, dan pengalaman khalayak. Efek afektif berhubungan dengan emosi dan perasaan setiap individu seperti suka,  benci, takut, sayang, dendam dan yang lainnya. Media secara tidak langsung dapat mempengaruhi sikap individuyang pada akhirnya berlanjut pada tindakan, inilah yang dimaksud efek behavioral.

C. Peran Orang Tua dan Solusi
Untuk membantu anak agar dapat memanfaatkan tayangan televisi secara positif sangat membutuhkan peran optimal orang tua, terutama dalam mendampingi dan mengontrol mereka. Hal ini perlu dilakukan orang tua agar mereka tidak tepengaruh budaya negatif yang terus mengalir lewat teknologi komunikasi yang hanya mempertontonkan hiburan yang tidak pantas seperti sinetron-sinetron belakangan ini. Orant tua perlu terus menanamkan daya pikir yang kreatif anak dalam belajar. Orang tua tidak perlu melarang anaknya menonton televisi, namun yang harus diperhatikan bagaimana orang ntua memilih acara yang betul-betul bermanfaat bagi pendidikan dan berkembangan anaknya, agar mereka dapat terangsang untuk berfikir kreatif.
Hal tersebut sangat perlu dilakukan karena mengingat kondisi psikologis anak yang belum matang, akan sulit bagi mereka untuk membedakan mana yang positif dan mana yang negatif. Orang tua perlu senantiasa mendampingi dan membimbing anak-anak mereka sejak dini dalam menonton televisi sebagai bentuk kehati-hatian orang tua untuk menangkal efek samping yang mungkin timbul jika anak dibebaskan menonton berbagai tayangan televisi sesuka mereka.
Kontrol orang tua terhadap tayangan televisi juga dapat dilakukan secara langsung kepada stasiun televisi, dengan cara orang tua melayangkan protes kepada stasiun televisi yang menayangkan sebuah acara yang dianggap bernilai negatif. Karena hampir semua stasiun televisi memiliki telepon, fax, email, bahkan via sms untuk menerima layanan pelanggan (custumer service).
Sedangkan yang dilakukan pemilik atau pengelola stasiun-stasiun televisi iti sendiri adalah bagaimana dapat memformat acara televisi yang mampu melatih anak-anak agar berfikir kreatif. Yaitu dengan lebih menambah acara-acara yang banyak mengandung unsur pendidikan, seperti kuis anak-anak dan remaja, pengetahuan sejarah, dan lain sebagainya. Hendaknya stasiun-stasiun televisi tidak berfikir untuk meraup keuntungan yang sebanyak-banyaknya, dengan tanpa memikirkan nasib konsumennya. Karena bagaimanapun juga, sebuah stasiun televisi ikut andil dalam upaya mendidik generasi bangsa ini, dengan menyuguhkan tayangan-tayangan yang betul-betul bermanfaat.
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Lembaga Sensor Sinetronpun ikut ambil andil dalam kontrol terhadap tayangan televisi agar semakin optimal. Karena seharusnya mereka dapat mencegah unsur pornografi masuk dalam tayangan televisi, mencegah unsur kekerasan berlebihan dalam sinetron, dan mecegah pandangan dan pemikiran yang menyesatkan masuk kedalam tayangan sinetron.
Bukan hanya tugas orang tua, pengelola televisi, atau KPI dan LSS saja yang berperan dalam faktor keterpengaruhan televisi terhadap realitas pendidikan kita, namum merupakan tanggung jawab yang harus dipikul bersama yang menaruh peduli terhadap perkembangan dan masa depan generasi bangsa ini.


















BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Media televisi sebagaimana media massa lainnya berperan sebagai alat informasi, hiburan, dan kontrol sosial. Kini televisi telah menjadi kebutuhan hidup masyarakat luas. Televisi memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap kehidupan masyarakat, khususnya terhadap perkembangan anak dan remaja. Namun tak dapat dipungkiri belakangan ini, berbagai tayangan televisi cenderung disajikan secara kurang selektif dan semaki tidak mengarah suatu tujuan pendidikan maupun informasi. Sehinga menimbulkan lebih banyak dampak negatif terhadap perkembangan anak dan remaja. Mereka akan mengikuti apa yang mereka lihat dan dengar tanpa membedakan mana yang positif dan negatif. Dengan begitu mereka akan mengalami perubahan moral yang tidak sejalan dengan kematangan mental dan akan mengakibatkan bahaya psikologis dalam diri remaja tersebut. Dalam hal ini orang tua sangat berperan dalam membantu anak agar dapat memilih tayangan televisi yang bernilai positif. Pengelola sebuah stasiun televisi ikut andil dalam upaya mendidik generasi bangsa ini, dengan menyuguhkan tayangan-tayangan yang betul-betul bermanfaat. Peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Lembaga Sensor Sinetronpun ikut diharapkan dalam kontrol terhadap tayangan televisi agar semakin optimal.
B. Saran
Tayangan televisi memiliki pengaruh psitif maupun negatif terhadap perkembangan anak dan remaja. Tayangan televisi akan berdampak positif  bagi pembentukan moralitas anak dan remaja jika cara pemanfaatan dilakukan secara benar. Sehinnga disarankan kepada orang tua untuk berperan dalam mengawasi dan mengontrol mereka dalam menonton televisi. Disarankan pula untuk para pengelola stasiun televisi dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Lembaga Sensor Sinetron (LSS) untuk ikut mengontrol dan memilih tayangan yang berdampak positif bagi khalayak dan menyuguhkan tayangan-tayangan yang betul-betul bermanfaat.


















DAFTAR PUSTAKA

Ali, Mohammad dan Mohammad Asrori. 2005. Psikologi Remaja: Perkembangan
Peserta Didik. Jakarta: PT. Bumi Aksara
Cangara, Hafied. 2006. Pengantar Ilmu Komunikasi . Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada
Labib, Muhammad. 2002. Potret Sinetron Indonesia. Jakarta: Mandar Utama Tiga
Books Division
Rakmat, Jalaludin. 2005. Psikologi Komunikasi: Edisi Revisi. Bandung: PT.
Remaja Rosda Karya
Yuhana, Ida et al. 2008. Bahan Dasar Kuliah: Dasar-Dasar Komunikasi. Tidak
dipublikasikan. Jurusan Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. IPB. Bogor
Yusuf, Syamsul. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja
Rosdakarya

Posting Lebih Baru
Previous
This is the last post.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter

Google+ Badge

Follow by Email