Senin, Mei 25, 2015
0


Sebulan yang lalu, April 2015 menjadi titik terendah dalam ujian kehidupan, keimanan, dan lainnya. Emosi yang tidak terbendung membawa jiwa dan raga ini mengantarkan kacaunya beberapa fungsi berfikir saya. Terkadang hal-hal konyol ingin saya lakukan walau akal sehat beruntung masih berjalan dengan baiknya. Dada ini sering sesak, tenggorokan mengering menahan emosi agar tidak tumpah di tempat yang tidak semestinya.
Bodohnya saya adalah menutup rapat permasalahan pribadi dari dunia luar, tidak seorang pun mengetahui beban pikiran, mental dan perasaan yang saya pikul sehingga menambah hancur kehidupan saya. Bukannya tidak percaya sama orang namun saya tidak ingin mereka melihat dan merasakan apa yang sedang melanda pribadi saya. Walau itu harus di bayar mahal dengan air mata, daya tahan tubuh menurun drastis dan semangat hidup yang memudar.


Beberapa orang sebenarnya sudah mengetahui gelagat aneh saya namun mereka diam menanti reaksi saya. Saya pribadi menyerahkan kepada sang pencipta namun terkadang hati ini kembali teriris manakala duduk diam sendirian. Seberapapun besarnya usaha saya untuk tetap berdiri, saya mengaku kalah dengan kehidupan ini. Saya sedang sakit, dan hanya saya sendiri yang bisa mengobatinya. Menangis kepada sesama manusia tidak akan meringankan bebanmu sama sekali maka dari itu berserah kepada sang khalik adalah sebaik-baiknya jalan saya.
Dan saya bangga kepada diri saya pribadi karena mampu melewati ini semua. Jujur memang ini tidak mudah namun saya percaya esok hari akan berubah indah. Dan yang terbaik dari itu semua adalah saya mampu berdiri tegak di hari itu dan hari ini saya berdiri tegak disini, di Pemalang untuk melaksanakan janji saya. Semoga apa yang saya kerjakan memberi makna dalam perjalanan hidup saya dan menjadikan pribadi lebih baik dan mengambil setiap langkah perjalanan hidup saya.
Terima kasih.

Salam

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter

Follow by Email