Senin, Februari 18, 2013
0
Senin, 18 Februari 2013




"Saya pikir upaya lepas dari patah hati juga bisa disebut perjalanan tetapi melupakan bukan bagian dari perjalanan".

Adalah kata pembuka dalam sebuah novel garapan empat sekawan yang dipertemukan melalui jejaring sosial twitter yang bermula dengan saling menyahut dalam sebuah tagar #Rhyme. Nasib yang mempertemukan mereka atau keadaan yang mempertemukannya? Apapun itu yang jelas mereka bisa dipertemukan di dunia nyata dan bisa terlahir sebuah novel bernama "TRAVE(LOVE)ING".
Secara umum TRAVE(LOVE)ING terbentuk atas dua kata, Traveling dan Love. Yang mana Traveling adalah perjalanan sedangkan Love diartikan cinta. Mungkin dari kalian yang membaca novel ini akan beranggapan bahwa novel ini bercerita mengenai perjalanan cinta seseorang namun bagi yang sudah membaca novelnya mempunyai sudut pandang sedikit berbeda, yaitu perjalanan dan cinta. Dan saya merasa anda cukup bisa membedakan makna perjalanan cinta dengan perjalanan dan cinta.
Novel bentukan Roy Saputra, Mia Haryono, Grahita Primasari, dan Dendi Riandi ini mengisahkan pelesiran mereka melintasi berbagai negara hanya untuk satu tujuan, Move On. Sebuah kata namun susah dan berat untuk dijalankan dan dilaluinya. Buktinya keempat orang ini bahkan rela berjalanan jauh ratusan kilometer dengan budget yang tidak terlalu sedikit untuk bisa mendapatkan Move On nya kembali.
Dendi melakukan perjalanan melintasi tiga negara dalam waktu satu minggu, sendirian. Kecuali perjalanan datang dan pulang ke Indonesia, ia membelah tiga negara dengan selalu menggunakan transportasi darat. Ia pulang dengan pantat yang lebih berisi.
Grahita rafting di Bali bersama teman-temannya. Selain basah-basahan, ia juga menemukan makanan enak saat di Kuta. Ia kembali ke rumah dengan timbangan yang naik beberapa kilo dan sebuah penyesalan akan apa yang telah ia makan.
Mia mengikuti sebuah auditor training di Dubai. Ia berkesempatan duduk di kelas bisnis sebuah maskapai penerbangan bintang lima. Saat kembali ke Indonesia, ia disoraki teman kantornya karena pulang hanya membawa modul training.
Roy pergi mengunjungi Kuala Lumpur untuk menonton sebuah pertandingan olahraga. Tiket dan lain-lainnya hanya ia pesan sepuluh hari sebelum keberangkatan. Ini adalah perjalanan dengan persiapan paling cepat pertamanya. Begitu sampai di Jakarta, ia langsung disambut hangat oleh tagihan yang membludak.
Saat melakukan perjalanan itu, mereka berempat sedang patah hati. Dan itu yang diracik mereka dalam kisah perjalanan ini. Sebuah rumusan sederhana untuk belajar 'Move On' yaitu dengan mengingat. Perjalanan yang mereka lakukan membuat mereka bisa 'berpindah' dan memulai.
Patah hati bisa membuat seseorang menjadi kreatif. Keempatnya membuktikan itu. Dan pada akhirnya, mereka tetap harus berterima kasih kepada para mantan yang membuat mereka melakukan perjalanan 'patah hati' dan kembali dengan cerita yang dituliskan. Sebuah cara 'sembuh' yang mengagumkan bukan?
TRAVE(LOVE)ING, Hati Patah Kaki Melangkah.

Selamat membaca,

AHMAD NURUS SIROT

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter

Follow by Email