Minggu, Oktober 14, 2012
0
Saya merupakan salah satu dari segelintir orang warga kota Semarang yang sangat memprihatinkan. Kenapa saya menyebutnya begitu? Bagaimana tidak, lahir dan besar disini tapi tidak tahu banyak tempat di kota Semarang itu sendiri. Jangankan nama-nama gedung atau tempat bangunan-bangunan besar yang strategis disini, nama jalan pun banyak yang asing di pendengaran saya.
Jangan heran kalau bertemu saya dengan membawa peta atau sedang membuka Google Maps. Karena hanya itu mungkin satu-satu nya jalan yang bisa menyelematkan saya dari ketersesatan di jalan. Apalagi pekerjaan saya yang dibidang logistik sudah senantiasa terkadang diharuskan keliling kota semarang untuk mencari apa saja yang dibutuhkan kantor. Kalau sudah begitu pasti saya akan menghubungi Marketing untuk meminta tolong membuatkan peta. Itu apabila tempat nya benar-benar asing dan baru terdengar bagi saya. Selain itu saya selalu siap sedia Samsung Galaxy Mini untuk berjaga-jaga kalau darurat (baca : Tersesat).
Sabtu, 13 Oktober 2012 kemaren merupakan sebuah tantangan sekaligus pengalaman yang berharga dalam hal nya pengenalan kota tercinta ini. Berawal dari janji bertamu di salah satu rumah kawan lama saya yang tinggal di daerah Kebunharjo lah petualangan ini dimulai. Kalau boleh saya jujur, saya belum pernah menginjakkan kaki disana. Hanya sekedar tahu tempatnya, itupun karena kawan saya tinggal disana. Jangankan di Kebunharjo, stasiun Poncol dan Stasiun Tawang yang merupakan jalan yang bakal dilalui pun saya belum pernah melewatinya. Sekali lagi, saya hanya sekedar tahu nama dan alamatnya saja. Seperti apa dan bagaimana tempat itu belum bisa tergambar di benak ini. Hanya ada gambaran di benak saya mengenai stasiun itu karena pernah liat di televisi.
Bermodal ketetapan hati dan niat yang baik maka saya tidak ragu untuk kesana. Hitung-hitung menambah pengalaman dan wawasan mengenai seputran jalan di kota Semarang. Untuk kali ini saya tidak mengandalkan peta maupun Smartphone saya (Kebetulan Low Bat) melainkan mengandalkan kenekatan dan intuisi. Bermodal pengetahuan bahwa untuk ke stasiun poncol harus lewat jalan imam bonjol dan saya pun menelusuri jalanan tersebut. Sebenarnya kemarin saya lebih mengikuti kemana pengendara motor yang lain bergerak. Karena insting saya mengatakan bahwa mereka pasti akan melewati seputaran stasiun poncol, dan insting saya tidak salah. Dengan mengandalkan arah penunjuk jalan yang sudah dipasang oleh Pemkot Semarang perjalanan saya sampai di depan gang kebunharjo. Memang disini lah janjiannya, karena salah satu kawan saya sudah menunggu disana.

Cukup lama basa-basi disana, waktu juga sudah beranjak sore saya memutuskan untuk mengakhiri obrolan seru kita. Bagimana pun juga saya harus pulang ke rumah karena memang sudah ada aktivitas yang sudah menunggu disana. Untuk bisa pulang ke rumah dari sini saya akui saya buta jalan. Belum pernah saya bermain di sekitaran stasiun tawang ini, untuk itu saya meminta kawan saya untuk membuatkan peta dari sini menuju bundaran bubaan. Berbekal peta sederhana ini perjalanan berlanjut pulang. Dari sini saya bisa tahu stasiun tawan juga ponder tawang yang banyak dibicarakan banyak orang. Jadi ini toh tempatnya. Bahagia itu ketika di depan mata sudah nampak  bundaran bubaan. Karena dari sini saya sudah tidak pusing-pusing memikirkan peta itu lagi.

ISENG

 Kira-kira ini siapa yah?
@dotsemarang
@ASMARIE_
@MoiIsmiy

Terlepas dari ketidaktahuan kita mengenai apa, bagaimana, mengapa kota Semarang justru itu akan membuat kita dengan sadar diri mencoba mengupas semua yang ingin kita ketahui. Baik secara langsung maupun tidak.
keep posting guys..
with love,

AHMAD NURUS SIROT

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter

Follow by Email