Kamis, Maret 21, 2013
0
 Sumber : Google

Musik adalah suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyian. Musik sudah dikenal sejak kehadiran manusia modern homo sapiens yakni sekitar 180.000 hingga 100.000 tahun yang lalu. Memang saat itu alat musik yang ditemukan masih sederhana, diantaranya seruling dari sisa tulang belulang hewan hasil perburuan juga gendang dari batang pohon yang berongga yang ditutupi kulit binatang.
"... music exists as a form of communication between people of a certain time, place, and culture..." (Pleasants and Small)
Memang sudah bukan rahasia umum lagi bahwa musik itu memiliki kekuatan besar dalam mempengaruhi pendengarnya. Siapapun dia, dimanapun dia, kapanpun dia, dan sedang dalam keadaan apapun dia begitu terdapat alunan musik pasti sebagian otak kita akan beralih fokus terhadap suara yang dikeluarkan dari gabungan alat musik tersebut. Sudah berkali-kali hari kita diselamatkan oleh musik, patah semangat, patah hati, sakit dan musiklah yang menemani kita sampai pagi, sampai hari berganti, dan sampai semua terlewati. Berkali-kali juga musik membawa kita kedunia yang lebih indah dari hari kemarin. Bangun pagi ditemani musik yang semangat, lari pagi musiknya penuh beat, habis jadian musiknya romantis cinta-cintaan, putus pacaran musiknya galau-galauan, mau tidur musiknya jazz.

Sumber : Walpaper Bank

Tapi apakah kita bisa memainkan minimal salah satu alat musik tersebut? Tidak semua orang diberikan bakat alami sebagai seorang pemusik atau seniman karena biasanya bakat tersebut merupakan gen warisan turun-temurun dari keluarganya. Meskipun ada juga yang mampu menguasai dengan baik alat musik tertentu dengan latihan intens dan kontinyu. Sebagian besar dari kita adalah penikmat seni atau penikmat musik, termasuk saya. Hingga dewasa ini alat musik yang "pernah" saya kuasai adalah pianika. Tapi kalau sekarang ini saya ditantang memainkan pianika sama anak SD pun saya akan angkat tangan. Karena tingkat penguasaan dan kemahiran mereka jauh diatas saya, mereka sedari dini audah dikenalkan dan diajarkan alat musik tersebut sedangkan saya hanya belajar selama setahun dengan tingkat frekuensi jarang di pelajaran seni musik jaman SMP dulu.
Ketika melihat orang bermain alat musik ada rasa hati ingin juga bisa bermain dan mahir seperti mereka. Bukan tidak pernah ada usaha untuk belajar namun kala itu niat belajar terkalahkan dengan kemalasan yang luar biasa sehingga hasilnya pun tidak ada. Kalau boleh saya katakan belajar alat musik itu tidaklah mudah, dibutuhkan keyakinan dan ketekadan yang bulat untuk menguasainya. Jadi sangat wajar apabila setiap ada pagelaran musik selalu diberandol dengan harga yang tidak begitu murah. Dan sebagai bentuk apresiasi kita terhadap para pemusik dan atau seniman sudah selayaknya kita menghargai mereka dengan membeli album asli mereka atau mengunduh melalui jalur resmi yang legal. Bagaimanapun juga mereka mencari sekeping rupiah melalui karya-karya mereka. Apabila kita tidak menghargainya betapa piciknya kita yang seolah-olah menutup rejeki mereka dengan membeli hasil karya yang bajakan serta ilegal. Sudah sepatutnya kita menjunjung tinggi musik sebagai bagian dari hidup kita, bagian dari pekerjaan kita, bagian dari ibadah, bagian dari hiburan kita. Kalau tidak dimulai dari sendiri, siapa yang akan menghargai hasil karya mereka?. Kalau tidak dimulai dari sekarang, lalu kapan lagi?.

Selamat hari musik nasional,

AHMAD NURUS SIROT

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter

Follow by Email